Senin, 22 April 2013

Tugas 3 Perekonomian Indonesia






Perhatian pemerintah pada kawasan perbatasan hingga kini masih sangat minim. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2013, pemerintah hanya mengalokasikan dana pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan sebesar Rp7,8 triliun. 

Alokasi anggaran itu dianggap terlalu kecil untuk menanggung beban pembangunan di 111 kecamatan dari 12 provinsi.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Bidang Pembangunan Kawasan Perbatasan, Endang Kesumayadi, mendesak pemerintah untuk lebih serius dengan pembangunan di perbatasan. Masalah ini dianggap persoalan sensitif yang berpotensi mengancam kedaulatan negara.


"Anggaran dari pemerintah yang Rp7,8 triliun itu bukan setengah hati lagi, tapi tidak ada apa-apanya," kata Endang, Rabu (27/2/2013).


Endang menyayangkan sikap pemerintah yang kurang peduli pada masyarakat di perbatasan. Padahal kontribusi masyarakat di kawasan antar negara pada pertumbuhan ekonomi Indonesia terbilang cukup besar.


Sebagai contoh, Kalimantan Timur sebagai lumbung minyak nasional setiap tahun memberikan kontribusi pada pendapatan negara sebesar Rp 497 triliun. Kenyataannya, masyarakat di perbatasan Kalimantan Timur tidak pernah cukup menikmati bahan bakar minyak (BBM).


"Jika subsidi BBM tahun ini, 10%-nya saja kita kasih ke wilayah perbatasan, mereka sudah cukup 'sejuk' menikmati. Daripada pindah negara," imbuh dia.


Untuk mencegah munculnya isu kedaulatan, kalangan pengusaha yang tergabung dari Kadin Indonesia turut membantu pemerintah dengan menanamkan investasi di wilayah perbatasan dengan alokasi Rp 5 triliun.



Menurut  pendapat  saya, pemerintah masih kurang serius dalam menangani masalah perbatasan yang ada di negara ini. Terlihat jelas dari segi anggaran yang diberikan pemerintah terhadap kawasan perbatasan sangat minim sekali yang mengakibatkan lambatnya pembangunan di daerah perbatasan tersebut. Sangat disayangkan memang sikap pemerintah yang acuh tak acuh ini, padahal kontribusi masyarakat di kawasan antar negara pada pertumbuhan ekonomi Indonesia terbilang cukup besar. Untuk itu pemerintah diharapkan lebih serius lagi dengan pembangunan di perbatasan. Karena masalah ini dianggap persoalan sensitif yang dapat berpotensi mengancam kedaulatan negara. 

Sumber artikel :


Selasa, 09 April 2013

Tugas 2 Perekonomian Indonesia


Ini Penyebab Harga Bawang Merah Sangat Mahal

Harga bawang merah melonjak di sejumlah pasar tradisional Cirebon akibat kekurangan persediaan dari petani karena musim tanam bulan Januari hingga Maret menurun.
Manajer Koperasi Nusantara Jaya salah satu pengelelola petani bawang merah di Cirebon Mudatsir mengatakan, persediaan bawang merah dari petani berkurang karena hasil panen musim hujan menurun.
Harga bawang merah tingkat petani kini mencapai Rp 35 ribu per kilogram, kata dia, untuk eceran bisa tembus Rp 45 ribu per kilogram, tapi harga mahal petani belum panen diperkirakan produksi meningkat bulan April 2013.
Bagi petani bawang merah di Cirebon, mahalnya harga bawang merah tersebut, kata dia, akan menyulitkan mereka untuk pembelian bibit kini sudah mencapai Rp 25 ribu per kilogram.
Harga stabil kisaran Rp 10 ribu tingkat petani, mereka lebih nyaman dibandingkan harga mahal menyulitkan konsumen dan anjlok hingga dibawah modal saat panen raya akibat melimpah bawang merah impor.
Sementara itu Kurnianto petani bawang merah di Indramayu mengaku, meskipun harga bawang putih dan bawang merah di pasaran saat ini cukup mahal, hingga mencapai Rp 44 ribu per kilogram, petani mengeluh karena tak menikmati. Pasalnya, panen belum panen.
Dikatakannya, hasil panen bawang merah saat musim penghujan banyak yang rusak, sehingga panen menurun, bahkan sebagian petani gagal panen akibat tanaman bawang merah mereka membusuk.
Kini, harga bawang merah melambung hingga tembus Rp 44 ribu per kilogram, sebelumnya saat petani panen musim hujan hanya dijual Rp 12 ribu per kilogram. Hal serupa dikeluhkan oleh Tarsana petani bawang merah di Losari Kabupaten Cirebon, dirinya mengaku tak menikmati mahalnya harga bawang, karena telah panen lebih dulu dua minggu lalu saat itu harganya Rp 12 ribu per kilogram.
 
Menurut pendapat saya, kenaikan harga bawang merah di sejumlah pasar tradisional Cirebon disebabkan karena belum mampunya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yang tinggi akan bawang merah. Padahal bawang merah merupakan salah satu bumbu dapur yang hampir selalu dibutuhkan dalam berbagai macam masakan Indonesia. Disamping itu kenaikan harga bawang merah ini disebabkan karena adanya perubahan cuaca yang disertai curah hujan yang tinggi. Selain itu, kegagalan panen yang terjadi di beberapa daerah serta terhambatnya distribusi dari sentra produksi ke daerah konsumsi akibat banjir di sejumlah wilayah sentra produksi juga turut menyebabkan kenaikan harga bawang merah. Faktor lain yang menyebabkan melonjaknya harga bawang merah adalah karena pasokan yang tersendat akibat adanya kebijakan pemerintah dalam pembatasan kuota impor. 


Sumber artikel :

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/03/12/mjje56-ini-penyebab-harga-bawang-merah-sangat-mahal