Rabu, 06 November 2013

I. ABSTRAKSI LATAR BELAKANG

judul :
STUDI PERAN PEREMPUAN DALAM PENGEMBANGAN USAHA KECIL MENENGAH MELALUI TEKNOLOGI INFORMASI DI
KOTA PEKALONGAN
sumber : http://www.unisbank.ac.id/ojs/index.php/fti2/article/download/267/418
pengarang : Victorianus Aries Siswanto

Abstraksi:
Bidang teknologi informasi memberi prospek pada bangsa Indonesia yang tengah dilanda krisis ekonomi. Untuk itu bisnis yang didukung oleh teknologi informasi perlu mendapat perhatian yang khusus karena sifatnya yang strategis bagi bangsa Indonesia. Jumlah wanita yang mendalami teknologi masih sangat sedikit, yang artinya hal ini menunjukkan bahwa minat wanita dalam bidang teknologi masih minim.
Disisi lain, kemampuan dan keahlin para wanita dalam menggunkan teknologi informasi juga haru terus ditinggkatkan. Metode penambahan wawasan dan informasi serta peningkatan kammpuan dan keahlin dapat dilakukan dengan cara pelatihan, workshop dengan tehnik yang praktis dan sederhanan dalam penyampiannya.
LATAR BELAKANG
Krisis ekonomi di Indonesia yang tidak kunjung selesai membuat usaha-usaha besar gulung tikar dan membuat beban bagi bangsa dan  negara  makin berat karena  dengan usaha yang gulung tikar maka semakin banyaknya pengangguran dan tanggung jawab negara uga akan semakin besar. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah seolah-olah tidak ada hasilnya, PHK dan pengangguran pun  semakin bertambah, ditambah lagi bulan Mei 2008 BBM naik lagi, semakin komplekslah masalah perekonomian di Indonesia.
Bila dicermati secara lebih mendalam, ternyata usaha kecil yang kadang dianggap remeh justru usaha tersebut dapat bertahan dan bahkan semakin berkembang. Dalam menghadapi era globalisasi, banyak negara yang tergabung dalam Dewan Milenium, pada September 2000 di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah  menyepakati kerangka pembangunan global untuk perbaikan dan pencapaian kehidupan masyarakat dunia yang lebih baik dan layak. Kerangka tersebut dituangkan dalam tujuan pembangunan millenium (Millenium Develpoment Goals, MDGs). Isi kerangka tersebut yang telah di sepakati tersebut sama seperti Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke empat. Tujuan pembangunan milenium yang dideklarasikan adalah mengentaskan kemiskinan dan kelaparan, mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan wanita serta menjamin keberlangsungan lingkungan hidup.
Tahun 2000 penduduk Indonesia berjumlah 209 juta merupakan jumlah penduduk terbesar ke 4 didunia. Dari jumlah tersebut 105 juta (50,24%) adalah wanita dan 10 juta (49,76%) pria. Dari data tersebut sudah dapat dilihat bahwa umlah wanita lebih banyak dibandingkan dengan jumlah laki-laki. Dilihat dari pendidikan tertinggi yang ditamatkan  penduduk  Indonesia  yang  berusia10 tahun keatas, pendidikan yang ditamatkan wanita  masih lebih rendah dari pria di semua jenjang pendidikan terlebih lagi pada tingkat perguruan tinggi. Di  kota: 27% wanita tidak tamat SD, 28% tamat SD, 18% tamat SLTP, 22% tamat SMU/SMK, dan hanya 5% tamat perguruan Tinggi,
Disamping karna faktor pendidikan, munculnya persoalan perempuan yang tidak dapat dipisahkan  dari faktor-faktor  ideologi, struktural dan kultural, ketiganya saling terkait menguatkan satu situasi dengan situasi yang sangat tidak menguntungkan bagi perempuan. Ideologi yang  bergandengan   dengan  ideologi gender telah   merasuki struktur kultural masyarakat yang menempatkan perempuan di posisi  pinggiran. Nilai-nilai  yang mengunggulkan  peran dan  status  laki-laki  telah mendukung terciptanya  peran  dan status  perempuan  yang bersifat sekunder. Persoalan wanita adalah persoalan struktural dengan faktor, penyebab dan kendala yang tidak tunggal antara lain adanya keterbatasan kaum wanita untuk memperoleh pendidikan, memperoleh akses ekonomi, berorganisasi, beraspirasi dan lainnya masih tetap berlaku. Budaya  Tradisional  dimana  adanya ketimpangan  gender. Kondisi-kondisi itu lah yang membuat  wanita pada posisi yang terjepit dan semakin tidak bisa bergerak.
Keadaan sekarang yang banyak terjadi adalah suami yang seharusnya sebagai  kepala rumah tangga sudah banyak yang menjadi pengangguran tidak kentara, padahal kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak berjalan  terus setiap harinya. Dengan keadaan inilah untuk menjaga kelangsungan hidup dan keluarganya, para istri yang semula sebagai ibu rumah tangga mulai berperan ganda melibatkan diri dalam berbagai usaha yang produktif. Sebenarnya wanita sangat berpotensi untuk menciptakan berbagai kegiatan yang produktif yang dapat membantu ekonomi keluarga. Dengan potensi tersebut wanita dapat berperan dalam pemulihan ekonomi yang masih diselimuti berbagai permasalahan.

PERUMUSAN MASALAH
Perumusan  masalah  yang akan  dibahas pada penelitian ini adalah:
1. Seberapa  jauh  wanita  menggunakan teknologi  informasi  dalam pengembangan usaha kecil menengah.
2.   Seberapa  jauh  peran  serta  wanita  dalam usaha kecil menengah.
3. Bagaimana kemungkinan pengembangan kemampuan dan peran serta mereka dalam pengembangan usaha kecil menengah.

TUJUAN PENELITIAN
1.    Menganalisis peran wanita dalam penggunaan teknologi informasi untuk pengembangan usaha kecil menengah.
2.  Menganalisis kemampuan dan peran serta wanita dalam mengembangkan usaha kecil        menengah.
3.   Memperoleh alternatif peningkatan kemampuan dan peran serta wanita dalam pengembangan usaha kecil menengah.

II. TELAAH PUSTAKA

judul :
STUDI PERAN PEREMPUAN DALAM PENGEMBANGAN USAHA KECIL MENENGAH MELALUI TEKNOLOGI INFORMASI DI
KOTA PEKALONGAN
sumber : http://www.unisbank.ac.id/ojs/index.php/fti2/article/download/267/418
pengarang : Victorianus Aries Siswanto

TELAAH PUSTAKA
Perempuan Indonesia menghadapi persoalan yang spesifik  gender, yaitu persoalan yang hanya muncul karena seseorang atau kelompok orang adalah perempuan. Tidak saja di kalangan laki-laki, tapi kaum perempuan sendiri yang masih banyak tidak menyadari hal tersebut, sehingga memandang tidak perlu persoalan perempuan harus dibahas dan diperhatikan secara khusus.
Hal ini terjadi  karena  mendalamnya penanaman nilai-nilai mengenai peran laki-laki dan perempuan, yang menganggap sudah kodratnya perempuan sebagai ratu  rumah tangga, sebagai pengendali urusan domestik saja begitu dominan di masyarakat kita, sehingga adanya pikiran dan keinginan mengenai kesempatan beraktivitas di luar domain rumah tangga dianggap sesuatu yang mengada-ada, dan tidak pantas. Sehingga tidak aneh muncul paradigma perempuan tidak perlu sekolah tinggi toh akhirnya hanya akan mengurus sekitar  kasur,  sumur,  dan dapur.  (Sri  Lestari,2007).
Dengan seiring kemajuan arus globalisasi, wanita sudah mulai menampilkkan kemampuannya walaupun masih lebih rendah dibanding laki-laki. Ditunjukkan oleh data BPS tahun 2000, wanita sekarang mulai terlihat memiliki motivasi untuk terjun dibidang wiraswasta atau usaha dengan alasan mengurangi pengangguran, menciptakan lapangan kerja Sebenarnya sudah lama sebagian wanita Indonesia terlibat dalam wiraswasta namun karena masih adanya persoalan spesific gender, maka pemberdayaan   wanita itu belum tersentuh dan belum nampak di bumi Indonesia ini.
Menurut Cakrawala Cinta (Ide Usaha Kecil  dan Madya,1994), terdapat  perbedaaan penting yang menentukan jiwa kewiraswastaan, antara pria dan wanita, yang mana   kebanyakan wanita sulit untuk maju karena :
1). Wanita kurang diajar bersaing, Mereka kurang bertanding, malahan cenderung menghindari konfrontasi, karena konfrontasi bukan sifat lemah lembutnya wanita,
2).Wanita terlalu melihat detail perkara-perkara kecil, mereka terlalu berkepentingan atas hal- hal yang detail dari masalah, sehingga tidak terbiasa melihat kedudukan perspektif keseluruhannya.
3).  Wanita emosionil dalam situasi yang tidak tepat,   sehingga banyak  wanita  menghabiskan waktu memikirkan ”apa kata orang nanti” ketika seharusnya   dia   berpikir secara profesional untuk menyelesaikan tugasnya, sering menanam ”perasaan tidak enak” secara berkepanjangan, sering emosionil dan sentimentil  apabila  dikritik tentang pekerjaannya, sikap maupun penampilannya.
4).Wanita kurang berani mengambil resiko, berkaitan dengan sering memikirkan ”apa kata orang nanti”, wanita cenderung melakukan tugas–tugas secara aman dan average.
5).Wanita kurang cukup agresif, karena sifat  agresif tidak searah dengan pendidikan yang diterimanya selama ini, bahwa wanita harus feminim, jangan agresif, sehingga tidak ”berani” mengungkapkan   perasaan dan idenya secara tegas (asertif), dan tidak ”berani” mengatakan ”tidak”  atas  pendapat  dan sikap teman kerjanya yang diketahuinya salah.
6). Mereka lebih senang bereaksi dari pada mengambil inisiatif, mereka terlalu rikuh untuk menonjolkan kelebihan pendapat dan kepemimpinannya dan lebih suka jalur yang telah ada.
7). Wanita lebih berorientasi pada tugas dari pada  tujuan, berpikir besar pada tujuan dan sasaran, terkalahkan oleh kebiasaannya dalam pekerjan rutin dan yang detail.
Istilah wiraswasta atau wirausaha sebagai kata  intrepreneur, berasal dari kata wira artinya utama, gagah, luhur, berani, teladan, atau  pejuang  dan swa  berarti  sendiri dan “ta” berarti  berdiri, sehingga swasta berarti berdiri diatas kaki sendiri atau berdiri atas kemampuan sendiri.
Dengan demikian wiraswasta/wirausaha berarti pejuang yang gagah, luhur, berani dan pantas menjadi teladan dalam bidang usaha.
Dengan kata lain wirausaha adalah orang-orang yang memiliki sifat/jiwa kewirausahaan/kewiraswastaan,yaitu berani mengambil resiko, keutamaan, kreativitas, keteladanan dalam menangani usaha dengan berpijak pada kemauan dan kemampuan sendiri. (Jurnal  Pengkajian Koperasi dan UKM No 1 tahun I, 2006)

III METOLOGI PENELITIAN

judul :
STUDI PERAN PEREMPUAN DALAM PENGEMBANGAN USAHA KECIL MENENGAH MELALUI TEKNOLOGI INFORMASI DI
KOTA PEKALONGAN
sumber : http://www.unisbank.ac.id/ojs/index.php/fti2/article/download/267/418
pengarang : Victorianus Aries Siswanto

METODOLOGI PENELITIAN
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan berdasarkan jenisnya termasuk dalam penelitian survei, jadi pengambilan kesimpulan dilakukan melalui analisa kuesioner yang di dapat dari responden.
Obyek Penelitian
Obyek penelitiaan ini adalah Usaha Kecil Menengah diPekalongan, dengan mengambil sampel pekerja wanita.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data
a.   Kuesioner,
yaitu dengan menggunakan daftar pertanyaan  berstruktur  yang disampaikan kepada responden untuk memperoleh  jawaban secara terperinci diantaranya pertanyaan mengenai teknologi informasi, peran serta dan kebutuhan untuk berkembang.
b.  Wawancara
Wawancara dilakukan untuk mendapatkan gambaran secara lebih detail  mengenai  obyek penelitian,  dan untuk   membantu   penjelasan   analisa data. Wawancara dilakukan dengan pemilik UKM di Pekalongan.
Sumber Data
Sumber data yang digunakan yaitu
a.    Data primer
Pengumpulan data primer diperoleh secara langsung dari Usaha Kecil Menengah melalui pengisian kuesioner yang  dibagikan  ke  usaha  kecil menengah Pekalongan yang dituju.
b.   Data sekunder
Pengumpulan  data sekunder  diperoleh dari penelusuran buku literatur dan download  jurnal  dari  internet sehubungan dengan peran serta wanita di dalam pengembangan usaha kecil menengah.
Penetapan Sampel dan Responden

Penetapan sampel usaha kecil menengaja dengan pelaku usaha wanita yang diambil dengan teknik purposive secara method, dimana pengemabilan sampel tiap usaha kecil menengah di tentukan secara sengaja dengan memilih pimpinan UKM wanita. Populasi unit usaha kecil menegah (UKM) di biang tekstil utamanya untuk produksi batik dan tenun AIBM diwilaya kota pekalongan sudah mencatat 1150 buah (sumber:Dinmperindag kota pekalongan tahun 2007). Berdsarkan populasi UKM tersebut, populasi berumlah sekittar 45%, yaitu sekitar 500 buah. Adapun sampel yang diperoleh dari penelitian ini dihitung dengan menggunakan Slovin dan di dapat
N
n = ——–
1+Ne2
500
n = ———————-
1 + 500 ( 5% ) 2
n = 222,222
Dibulatkan menjadi 222

HASIL PENELITIAN
Gambaran Umum Obyek Penelitian
Populasi unit usaha kecil menegah (UKM) dibiang tekstil utamnya untuk produksi batik dan tenun ATBM diwilayah kota Pekalongan sudah mencapai 1150 buah (sumber : Dinmperindag kota pekalongan tahun 2007). Sektor ini memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pendapatan daerah kota pekalongan, sebesar kurang lebih 45% dari total pendapatan pertahun (sumber : Dipenda pemda Kota pekalongan tahun 2006). Sampai saat ini hasil produksi tekstil UKM berupa kain batik, serta kain tenun ATBM masih sangat diminati dan menadi daya tarik tersendiri bagi konsumen di seluruh indonesia maupun luar negeri.
Dukungan dari pihak pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan potensi dibidang UKM sangat tinggi, ditinjau dari dukungan penyaluran kredit dari BUMN kepada UKM dari tahun 1994-2006 telah mencapai sekitar Rp. 5 milyar lebih. Juga ditinjau dari Rencana Kerja Pemda 2006 pada  poin ke-9 yang terfokus pada Program Pengembangan Sistem Pendukung Usaha UKM.
Berdasarkan populasi UKM diatas, populasi  UKM  Batik  dan tenun  ATBM  yang dipimpin atau dimiliki oleh seorang perempuan berjumlah sekitar 45%, yaitu sekitar 500 buah. Berdasarkan  pengambilan  sampel  menurut Slovin didapat 222 buah.

Gambaran Umum Responden
  1. a.       Gambaran Umum Responden Berdasarkan Pendidikan
Jumlah responden berdasarkan pendidikan  disajikan  dalam tabel 1 dibawah ini:
Frequency         Precent         Cumulative Precent
ValidSD                  2                          1.96                  1.96
SMP                13                         12.75                14.71
SMA                62                         60.78                 75.49
D3                   9                           8.82                 83.31
S1                  16                          15.69                 100
Total                            102                      100.000
Tabel 1. Gambaran Umum Responden berdasarkan Pendidikan

Berdasarkan tabel1 tersebut terlihat bahwa banyak pengusaha wanita yang berpendidikan akhir SD yaitu sebesar 2 orang atau sebesar 1.96%, pengusaha yang berpendidikan SMP sebesar 13orang atau 12.75%, pengusaha wanita yang berpendidikan SMA sebesar 62 orang atau 60.78%, pengusaha wanita yang   berpendidikan  D3 sebesar 9 orang atau 8.82% dan yang berpendidikan  S1 sebesar 16 orang atau 15.69 %.  Dari data tersebut   mengidentifikasikan bahwa pengusaha wanita banyak yang mendasarkan usahanya atau bisnisnya dengan pengetahuan yang terbatas, sehingga diperlukannya peningkatan pengetahuan, baik melalui seminar maupun workshop.
b. Gambara Umum Responden berdasarkan Lama Menjabat/ bekerja
jumlah reponden berdasarkan lamanya menabat atau bekerja di UKM disajikan dalam tabel 2 di bawah ini :
                               Frequency         Perencent        Cummulative Percent
Valid    1-5thn                 29                28.16                          28.16
6-10thn                42                40.78                          68.93
11-15thn              15                14.56                          83.50
16-20thn               8                   7.77                          91.26
>20thn                 9                   8.74                        100.000
Tabel 2. Gambaran Umum Responden berdasarkan Lama Menjabat / Bekerja
Berdasarkan tabel 2  tersebut terlihat UKM di Pekalongan yang dikelola oleh wanita masih tergolong masih baru yaitu antara 1-5 sebanyak 29 orang atau 28.16%, sebanyak 42 orang atau 40,78% telah menjabat selama 6-10 tahun, sebanyak 15 orang atau 14.56% pengusaha telah menjabat selama 11-15 tahun, sebanyak 8 orang atau 7.77% pengusaha perempuan telah menjabat selama 16-20 tahun dan 9orang atau 8.74% telah berpengalaman lebih dari 20 tahun. Dari data tersebut dapat diartikan bahwa  sekitar tahun   1999, atau sekitar 9 tahun yang lalu Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi yang paling tinggi sehingga banyak tenaga kerja yang keluar dari pekerjaan atau menganggur dan sebagian besar dari mereka menjadi pengusaha batik, disini terlihat pengusaha perempuan terbanyak telah bekerja 6-10 tahun. Untuk mengatasi pengangguran tersebut sebagian besar   dari mereka berwiraswasta.

Hasil Penelitian
Didalam menjawab pertanyaan kuesioner, responden dapat menjawab pertanyaan  lebih  dari  satu  jawaban,  sehingga total  hasil  olahan  data  ini  tidak  sama jumlahnya.
1.   Pemakaian Teknologi Informasi
Hasil penelitian tentang pemakaian teknologi informasi yang telah dijalankan oleh UKM di Pekalongan terlihat pada tabel 3:
Frequency     Percent           Cumulative Percents
Valid     internet              20               15.63                        15.63
Komputer          51               39.84                        55.47 (word,excel
Software            14               10.94                        66.41
Lainnya             13               10.16                        76.56
Belum pakai      30               23.44                        100
Total                 128
Tabel 3.  Pemakaian Teknologi Informasi

Berdasarkan tabel 3 tersebut terlihat 51 orang (39.84%) telah menggunakan komputer, namun sebartas program pengolah kata dan data atau Ms. Word dan Ms Excell. Sedangkan 20 orang (15.63%) telah menggunakan internet dalam menalankan usahanya. Ada 14 orang (10.94%) yang telah menggunakan software (perangkat lunak) dalam menjalankan usahanya. Namun ada 30 orang (23.44%) yang belum menggunakan komputer sama sekali. Disini terlihat bahwa UKM di pekalongan belum menggunakan komputer sacara maksimal.
2. Pemanfaatan Teknologi Informasi

Teknologi sangat bermaanfaat dalam pegembangan usaha, baik peningkatan kualitas maupun kuantitas karena dengan memanfaatkan teknologi, pekerjaan akan berjalan secara otomatis tentunya akan menyingkat waktu, dan bahkan biaya dapat di tekan.
Hasil penelitian tentang pemanfaatan Teknologi yang telah di jalan kan oleh UKM di pekalongan terlihat pada tabel 4 berikut ini :
Frequency         Percent              Cumulative Percents
Valid     Alat BantuAdmin                  43                 32.58                           32.58
              Pengolah Data          21                 15.91                          48.48
                Pemasaran             28                 21.21                          66.41
                   Lainnya               13                   9.85                          79.55
                Belum pakai            27                20.45                           100
                     Total                  132               100.000
Tabel 4. Pemanfaatan teknologi informasi

Berdasarkan tabel 4 tersebut terlihat 43 orang (32.58%) menafaatkan alat bantu teknologi unuk alat bantu administrasi, 21 orang (15.91%) telah memanfaatkan teknologi informasi untuk keperluan teknologi informasi untuk keperluan pemasaran, 13 orang (9.85%) memanfaatkan teknologi informasi untuk keperluan lain dan 27 orang (20.45%) belum memakian teknologi informasi sama sekali atau bekerja secara manual.
3. Peran Serta Perempuan dalam Pengembangan UKM
Hasil penelitian tentan peran serta perempuan dalam pengembangan UKM terlihat padaa tabel 5 berikut ini:
Frequency         Percent              Cumulative Percents
Valid    Mengurani BebanKeluarga             55                 39.29                         39.29
              MengurangiPenganguran             56                 40.00                          79.29
                MengubahNasib                 21                 15.00                          94.29
                   Lainnya               8                    5.71                            1000
               Total                   140                    100.000
Tabel 5. Peran serta perempuan
Berdasarkan tabel 5 tersebut sebagian besar perempuan menyatakan bahwa mereka ingin mengurangi beban keluarga yaitu sebesr 55 (39.29%) perempun yng menytakan bahwa merek berusaha untuk mengurangi pengnggurn yng ada di Indonesia sebesar 56 orang (40%), mengubah nasib sebesar 21 orang (15.00%) dn lainnya sebesar 8 orang (5.71%). Dari tabel tersebut sebagian besar pengusaha perempuan masuk dunia wiraswasta untuk mengurangi pengangguran dan mengurangi beban keluarga.
4. Kebutuhan Peningkat Pengetahuan dan Keterampilan
Hasil penelitian tentang kebutuhan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan terlihat pada tabel 6 berkut ini :
Frequency         Percent              Cumulative Percents
Valid     Pemasarandan Bisnis                89                 67.42                           67.42
              PrilakuKonsumen                  13                 9.85                             77.27
              LaporanKeuangan                  26                 19.70                          96.97
              Lainnya                     4                   3.03                          100
                Total                       132             100.000
Tabel 6 Kebutuhan Peningkat Pengetahuan dan Keterampilan

Dalam hal peningkatan pengetahuan dan keterampilan materi yang paling diminati pelaku usaha wanita adalah pemasaran dan bisnis yaitu 89 orang (67.42%).laporan keuangan sebanyak 26 orang (19.70%). Perilaku konsumen yaitu sebanyak 13 orang (9.85%)., dan lainnya sebanyak 4 orang (3.03%). Dalam hal ini terlihat pelaku usaha wanita ingin belajar banyak bagaimana banyak bagaimana memasarkan produk mereka agar berhasil dan bagaimana menjalankan bisnisnya.
PEMBAHASAN
Teknologi informasi yang digunakan dalam pengembangan UKM, utamanya para wanita sebagai manajernya, belum mendapatkan tempat yang memadai. Artinya, teknologi informasi yang digunakan masih sebatas pada pemenuhan kebutuhan administrasi dengan alat bantu yang bersifat mayoritas sebagai “pengganti mesin ketik”. Dengan kata lain, teknologi informasi masih dimaknai sebagai alat bantu administratif harian (transactional processing). Padahal, teknologi informasi dan percepatannya sudah sangat luar biasa dan jika dioptimalkan akan memberikan daya dukung yang luar biasa dalam berbisnis. Hal ini mengisyaratkan bahwa UKM, utamanya para wanitanya masih sangat membutuhkan banyak informasi tentang peran serta teknologi informasi yang sesungguhnya dalam dunia bisnis secara praktis.
Disisi lain, kemampuan dan keahlian para wanita dalam menggunakan teknologi informasi juga harus terus ditingkatkan. Metode penambahan wawasan dan informasi serta peningkatan kemampuan dan keahlian dapat dilakukan dengan cara pelatihan, workshop dengan tehnik yang praktis dan sederhana dalam penyampaiannya. Akan lebih baik jika kegiatan tersebut dilakukan di wilayah mereka, artinya dekat dengan tempat usahanya, sehingga para wanita tersebut tidak perlu merasa kuatir meninggalkan pekerjaannya terlalu lama.
Dari sisi peran serta wanita dalam usaha kecil menengah, dapat diketahui bahwa etos kerja para wanita sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian dimana para wanita memiliki keinginan yang sangat besar untuk memberikan kontribusi dalam menyejahterakan keluarganya. Bahkan para wanita menghendaki adanya pengurangan-pengangguran. Dua hal ini mengisyaratkan bahwa para wanita tersebut memiliki kegigihan usaha yang tinggi dan perlu diberikan arahan dan wawasan yang benar dan tepat tentang bagaimana mengelola bisnis secara modern. Jika hal ini diberikan, para wanita tersebut dapat menjadi wirausahawati yang sangat tangguh.
Pernyataan yang dipaparkan diatas, sejalan dengan keinginan para wanita yang menghendaki penambahan ilmu dan pengetahuan bagaimana memasarkan produk dan menjalankan bisnis secara baik. Maka, pemberian informasi yang terus menerus dan dengan metode yang tepat perlu dilakukan sesuai dengan keinginan para wanita tersebut. Dari paparan diatas, beberapa hal yang dapat direkomendasikan demi peningkatan kualitas para wanita wirausahawati di bidang UKM Batik adalah sebagai berikut:
1.Perlu diberikan pelatihan secara berkelanjutan dengan materi utama:
a. Mengelola bisnis secara modern
b. Memasarkan produk secara modern
c. Teknologi informasi dalam bisnis
d. Pemanfaatan teknologi informasi secara praktis
2. Materi-materi tersebut harus dirancang dalam sebuah kurikulum yang berkelanjutan dengan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan
3. Perlu dilakukan pendampingan setelah pemberian materi pelatihan Perlu dilakukan evaluasi terhadap keterserapan materi dengan implementasi di lapangan.

KETERBATASAN  PENELITIAN
  1. Pengambilan sampel sebanyak 222 responden tidak terpenuhi hanya 171 sampel    karena   beberapa   kuesioner tidak kembali  dan sebagian responden tidak bersedia dimintai keterangan.
  2. Kesulitan dalam mecari data UKM yang dikelola oleh wanita, sehingga tim penelitian harus mencari-cari lokasi UKM.
  3. Kesulitan bertemu langsung dengan pimpinan UKM sehinga data dijawab oleh karyawan yang menjaga counter.
PENUTUP
Simpulan
Dari penelitian diatas dapat diketahui beberapa hal tentang para wanita wirausahawati dibidang UKM batik kota Pekalongan sebagai berikut :
  1. Pemanfaatan teknologi informasi belum maksimal.
  2. Keahlian di bidang teknologi masih sangat minim.
  3. Motivasi berwirausaha disebabkan oleh keinginan mengurangi beban keluarga dan pengangguran.
  4. Berdasarkan hasil kuesioner dari responden, merek berkeinginan untuk belaar tentang pemasaran dan pengelolaan bisnis secara modern, dimana kegiatan ini dapat dilanutkan pada pengabdian masyarakat demi kemajuan UKM yang di pimpin oleh wanita.
Saran
Dari keempat kesimpulan diatas, para wanita wirausaha UKM batik perludiberikan pelatihan dengan metode seperti yang dituliskan dalam pembahasan, yaitu melalui metode pelatihan berkesinambungan. Dalam hal ini harus dilakukan langkah persiapan materi, pelaksanaan pelatihan, pendampingan dan evaluasi.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim, (2000), Wanita dan Pria Di Indonesia 2000, Biro statistika Kesejahteraan Rakyat, BPS, Jakarta.
Anonim, (1994), Usaha Bersaing Untukwanita dan pemuda, ide Usaha Kecil dan Madya, Cakrawala Cinta, Jakarta.
B.S Kusumuljono (2007), peran keuangan Mikro dalam Mendukung Produktivitas Ekonomi Wanita, Jurnal disampaikan pada Rakor Pelaksanaan Kebijakan peningkatan produktifitas Ekonomi Wanita di Jakarta tanggal 28 Maret 2007.
Gunari Budhierethnowati dan Rapma Siahaan (2006), Menggerakkan Denyut Nadi Koprasi Wanita dalam Menghadapi Era Globalisasi.
Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM (2006), Studi Peran serta Wanita Dalam Pengembangan Usaha Kecil Menengah dan Koprasi, Nomer 1 tahun 1

Senin, 07 Oktober 2013

Lowongan Pekerjaan : Reporter


Description Job : Reporter

Specification Job : 1. Pria / Wanita
                            2. Maksimal 30 tahun
                            3. Pendidikan S1
                            4. Mampu berbahasa Inggris lisan dan tulisan
                            5. Gaji menarik
                            6. Mendapat asuransi kesehatan

Softskill              : 1. Komunikatif
                            2. Berpenampilan menarik
                            3. Mampu bekerja secara individu maupun team
                            4. Berfikir realistis
                            5. Cakap dan tanggap

Reporter adalah seseorang yang bekerja untuk mencari tahu lebih dalam tentang kebenaran suatu informasi yang dapat dijadikan suatu berita yang layak untuk dikonsumsi publik sesuai dengan kode etik yang telah ditetapkan. Reporter itu biasanya bertugas untuk menggali informasi tentang suatu hal dengan cara mewawancari narasumber yang berkaitan dengan hal yang akan diberitakan ke publik. Dengan demikian menjadi seorang reporter merupakan pekerjaan yang mulia karena mereka bertugas menyampaikan semua informasi yang ada kepada masyarakat melalui surat kabar, media cetak dan lain-lain.

Jumat, 07 Juni 2013

Tugas 5 Perekonomian Indonesia


Wilayah Perbatasan, Membangun dan Merebut Hati Separatisme





Perdamaian Aceh memang fenomenal, kita semua patut bersyukur bahwa bangsa kita bisa mencari jalan keluar yang bisa diterima para pihak. Aceh yang demikian potensial, yang para pemudanya berjuang dengan segala pengorbanan mereka melawan penjajah Aceh. Tetapi tiba di masa merdeka, ternyata tak bisa memenuhi harapan mereka. Sangat disayangkan memang, mereka hanya dijadikan warga kelas dua di wilayahnya sendiri.

Menurut saya, kebanyakan daerah perbatasan di Indonesia mempunyai keunggulan dan keunikan tersendiri. Daerah perbatasan memiliki potensi sumberdaya alam yang besar, serta merupakan wilayah yang sangat strategis bagi pertahanan dan keamanan negara. Akan tetapi daerah perbatasan mayoritas dihuni oleh anggota masyarakat yang tergolong miskin, jauh dari sejahtera dan sangat tertinggal. Masih belum banyak tersentuh oleh program pembangunan sehingga akses terhadap prioritas pembangunan seperti infratruktur, pemberdayaan potensi, pelayanan sosial, ekonomi, dan pendidikan masih sangat terbatas. Oleh karena itu saya berharap pemerintah lebih memperhatikan pembangunan di daerah perbatasan untuk menjaga kesatuan dan keutuhan nrgara kita, Indonesia..


Source : http://www.wilayahperbatasan.com/wilayah-perbatasan-membangun-dan-merebut-hati-separatisme/

Senin, 06 Mei 2013

Tugas 4 Perekonomian Indonesia



Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Saat Ini

Setelah membaca dari beberapa artikel, saya menyimpukan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini mengalami kenaikan. Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2012 mengalami peningkatan hingga mencapai 6,3%, sementara untuk tahun 2013 diramalkan ekonomi Indonesia kembali mengalami peningkatan antara 6,3 - 6,7%. Secara statistik kenaikan ekonomi Indonesia merupakan prestasi di bidang ekonomi. Selain meningkatkan jumlah investor dan menaikan devisa negara, kenaikan ekonomi juga memunculkan kestabilan suatu negara.

Sayangnya, kenaikan ekonomi yang seharusnya diikuti dengan bertambahnya lapangan pekerjaan dan menurunnya kemiskinan, tidak (atau belum) terjadi di Indonesia. Angka Index Gini di Indonesia justru mengalami peningkatan bahkan hingga 41%. Angka ini menunjukan ketimpangan luar biasa antara “si kaya” dan “si miskin” yang terjadi di Indonesia. Kenaikan pertumbuhan ekonomi yang digadang-gadangkan sebagai pencapaian luar biasa dari Indonesia ternyata tidak mampu membuka lapangan pekerjaan baru di Indonesia. Akibatnya jumlah pengangguran masih saja banyak, dimana saat ini mencapai 6,8% dari total penduduk Indonesia.

Lebih jauh lagi, pendanaan untuk penanggulangan kemiskinan di Indonesia selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Mulai dari tahun 2007 sebesar Rp.53 Trilyun menjadi Rp.106 Trilyun di anggaran tahun 2013. Kenaikan yang signifikan ini ternyata tidak berpengarus banyak terhadap tingkat kemiskinan Indonesia yang masih berada pada angka 12,5%.
Sebagai warga negara, kita harus lebih kritis melihat mana yang “prestasi” dan mana yang “aib” negara. Ketika kita ikut membangga-banggakan kenaikan pertumbuhan ekonomi, coba telusuri ulang apakah wajar jika kita bangga dengan kenaikan pertumbuhan ekonomi tapi pengangguran dan kemiskinan tetap banyak di Indonesia.

Hal ini menjadi tugas penting bagi pemerintah untuk menambah lapangan pekerjaan yang ada dan membangun daerah-daerah potensial dalam hal sumber daya alamnya untuk dikelola dengan baik agar warga sekitar mempunyai pekerjaan dan tidak menganggur lagi. Disamping itu seluruh masyarakat diharapkan agar dapat berbenah diri kedepannya. Cintai dan konsumsi produk dalam negeri agar barang dan jasa yang ada menjadi terserap sehingga dapat meningkatkan pendapatan nasional. 


Sumber :


Senin, 22 April 2013

Tugas 3 Perekonomian Indonesia






Perhatian pemerintah pada kawasan perbatasan hingga kini masih sangat minim. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2013, pemerintah hanya mengalokasikan dana pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan sebesar Rp7,8 triliun. 

Alokasi anggaran itu dianggap terlalu kecil untuk menanggung beban pembangunan di 111 kecamatan dari 12 provinsi.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Bidang Pembangunan Kawasan Perbatasan, Endang Kesumayadi, mendesak pemerintah untuk lebih serius dengan pembangunan di perbatasan. Masalah ini dianggap persoalan sensitif yang berpotensi mengancam kedaulatan negara.


"Anggaran dari pemerintah yang Rp7,8 triliun itu bukan setengah hati lagi, tapi tidak ada apa-apanya," kata Endang, Rabu (27/2/2013).


Endang menyayangkan sikap pemerintah yang kurang peduli pada masyarakat di perbatasan. Padahal kontribusi masyarakat di kawasan antar negara pada pertumbuhan ekonomi Indonesia terbilang cukup besar.


Sebagai contoh, Kalimantan Timur sebagai lumbung minyak nasional setiap tahun memberikan kontribusi pada pendapatan negara sebesar Rp 497 triliun. Kenyataannya, masyarakat di perbatasan Kalimantan Timur tidak pernah cukup menikmati bahan bakar minyak (BBM).


"Jika subsidi BBM tahun ini, 10%-nya saja kita kasih ke wilayah perbatasan, mereka sudah cukup 'sejuk' menikmati. Daripada pindah negara," imbuh dia.


Untuk mencegah munculnya isu kedaulatan, kalangan pengusaha yang tergabung dari Kadin Indonesia turut membantu pemerintah dengan menanamkan investasi di wilayah perbatasan dengan alokasi Rp 5 triliun.



Menurut  pendapat  saya, pemerintah masih kurang serius dalam menangani masalah perbatasan yang ada di negara ini. Terlihat jelas dari segi anggaran yang diberikan pemerintah terhadap kawasan perbatasan sangat minim sekali yang mengakibatkan lambatnya pembangunan di daerah perbatasan tersebut. Sangat disayangkan memang sikap pemerintah yang acuh tak acuh ini, padahal kontribusi masyarakat di kawasan antar negara pada pertumbuhan ekonomi Indonesia terbilang cukup besar. Untuk itu pemerintah diharapkan lebih serius lagi dengan pembangunan di perbatasan. Karena masalah ini dianggap persoalan sensitif yang dapat berpotensi mengancam kedaulatan negara. 

Sumber artikel :


Selasa, 09 April 2013

Tugas 2 Perekonomian Indonesia


Ini Penyebab Harga Bawang Merah Sangat Mahal

Harga bawang merah melonjak di sejumlah pasar tradisional Cirebon akibat kekurangan persediaan dari petani karena musim tanam bulan Januari hingga Maret menurun.
Manajer Koperasi Nusantara Jaya salah satu pengelelola petani bawang merah di Cirebon Mudatsir mengatakan, persediaan bawang merah dari petani berkurang karena hasil panen musim hujan menurun.
Harga bawang merah tingkat petani kini mencapai Rp 35 ribu per kilogram, kata dia, untuk eceran bisa tembus Rp 45 ribu per kilogram, tapi harga mahal petani belum panen diperkirakan produksi meningkat bulan April 2013.
Bagi petani bawang merah di Cirebon, mahalnya harga bawang merah tersebut, kata dia, akan menyulitkan mereka untuk pembelian bibit kini sudah mencapai Rp 25 ribu per kilogram.
Harga stabil kisaran Rp 10 ribu tingkat petani, mereka lebih nyaman dibandingkan harga mahal menyulitkan konsumen dan anjlok hingga dibawah modal saat panen raya akibat melimpah bawang merah impor.
Sementara itu Kurnianto petani bawang merah di Indramayu mengaku, meskipun harga bawang putih dan bawang merah di pasaran saat ini cukup mahal, hingga mencapai Rp 44 ribu per kilogram, petani mengeluh karena tak menikmati. Pasalnya, panen belum panen.
Dikatakannya, hasil panen bawang merah saat musim penghujan banyak yang rusak, sehingga panen menurun, bahkan sebagian petani gagal panen akibat tanaman bawang merah mereka membusuk.
Kini, harga bawang merah melambung hingga tembus Rp 44 ribu per kilogram, sebelumnya saat petani panen musim hujan hanya dijual Rp 12 ribu per kilogram. Hal serupa dikeluhkan oleh Tarsana petani bawang merah di Losari Kabupaten Cirebon, dirinya mengaku tak menikmati mahalnya harga bawang, karena telah panen lebih dulu dua minggu lalu saat itu harganya Rp 12 ribu per kilogram.
 
Menurut pendapat saya, kenaikan harga bawang merah di sejumlah pasar tradisional Cirebon disebabkan karena belum mampunya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yang tinggi akan bawang merah. Padahal bawang merah merupakan salah satu bumbu dapur yang hampir selalu dibutuhkan dalam berbagai macam masakan Indonesia. Disamping itu kenaikan harga bawang merah ini disebabkan karena adanya perubahan cuaca yang disertai curah hujan yang tinggi. Selain itu, kegagalan panen yang terjadi di beberapa daerah serta terhambatnya distribusi dari sentra produksi ke daerah konsumsi akibat banjir di sejumlah wilayah sentra produksi juga turut menyebabkan kenaikan harga bawang merah. Faktor lain yang menyebabkan melonjaknya harga bawang merah adalah karena pasokan yang tersendat akibat adanya kebijakan pemerintah dalam pembatasan kuota impor. 


Sumber artikel :

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/03/12/mjje56-ini-penyebab-harga-bawang-merah-sangat-mahal